Sejarah Transfer Factor
Tetapi, ada dua perkembangan didunia medis saat itu yang menghentikan riset transfer factor lebih lanjut
Pertama adalah pengembangan antibiotik. Antibiotik murah untuk diproduksi. Antibiotik dianggap lebih efektif dan menjadi trend industri kesehatan pada saat itu.
Kedua, perkembangan lain adalah adanya kontaminasi HIV dan Virus Hepatitis C pada stok darah. Pada saat itu, satu-satunya sumber untuk memperoleh transfer factor adalah dari darah manusia. Adanya resiko kontaminasi dari darah menghentikan riset Transfer Factor lebih lanjut.
Pada 1986, dua ilmuwan menemukan bahwa seorang ibu mewariskan transfer factor miliknya untuk bayi mereka melalui placenta dan kolostrum untuk memberikan sistem kekebalan tubuh pada bayi mereka dalam menghadapi lingkungan yang penuh dengan penyakit.
Para ilmuwan menemukan sapi juga melakukan hal yang sama. Bahkan, banyak sapi tidak dapat bertahan hidup jika tidak menerima kolostrum dari induknya. Penelitian mulai bergerak maju lagi. Antibiotik masih dianggap sebagai raja di dunia medis. Banyak ilmuwan yang bekerja dengan transfer factor yang berasal dari darah dan tidak berpikir bahwa transfer factor dari kolostrum juga dapat digunakan, sehingga mereka tidak masuk ke dalam penelitian tersebut.
Tiga peristiwa dalam sejarah merubah semua ini
Pertama, teknologi yang semakin canggih.
Kedua, dalam perkembangannya virus/kuman/bakteri/jamur semakin tahan terhadap antibiotik.
Ketiga, 4Life Research membuktikan pada sejumlah basis konsumen yang besar bahwa transfer factor dapat mempengaruhi kesehatan dan sistem kekebalan tubuh pada lebih dari satu juta pelanggan. Saat ini penelitian tentang Transfer Factor kembali meledak! Setiap tahun atau kadang-kadang setiap bulannya, dari hasil riset ditemukan sesuatu yang baru tentang efektivitas dan peran transfer factor.
4Life Research adalah perusahaan pertama didunia yang memproduksi produk berbasis Transfer Factor yang berisi transfer factor dari kolostrum sapi. Selanjutnya, mereka juga menemukan bahwa telur juga mengandung Transfer Factor dan kombinasi keduanya (kolostrum sapi dan telur) akan meningkatkan efektivitas Transfer Factor produksi mereka sampai 283%.
Transfer Factor dari kolostrum dan telur yang ditemukan benar-benar unggul untuk manusia karena hewan terkena lebih banyak jenis bakteri, parasit, virus dan jamur. Hewan liar hidup di lingkungan yang kotor di saat manusia telah menjaga dirinya tetap steril. Transfer factor dari hewan, selama ratusan tahun lebih terekspos dibanding manusia yang pada akhirnya membuatnya jauh lebih bermanfaat untuk membangun sistem kekebalan tubuh pada manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar